News
Karhutla Membara di Dumai dan Kampar: Riau Tetapkan Status Siaga Darurat
25 February 2026
10:18 WIB
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dilaporkan masih berkobar di sejumlah titik di wilayah Dumai dan Kampar, Provinsi Riau, pada Senin pagi, 23 Februari 2026. Tim gabungan dari berbagai instansi terus berjibaku memadamkan api yang melahap area gambut dan semak belukar. Kondisi ini diperparah dengan musim kemarau yang membuat api cepat meluas dan sulit dikendalikan di beberapa lokasi terpencil. Pemerintah Provinsi Riau sendiri telah mengambil langkah sigap dengan menetapkan status siaga darurat Karhutla guna mengoptimalkan respons dan koordinasi antarpihak. Penetapan status ini diharapkan dapat mempercepat penanganan dan mencegah dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Proses pemadaman menghadapi sejumlah tantangan berat di lapangan, terutama akses menuju titik api yang seringkali sulit dijangkau kendaraan darat dan berlokasi jauh di dalam kawasan hutan. Mayoritas lahan yang terbakar merupakan lahan gambut, yang membuat api menyala di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan secara total hanya dengan menyemprotkan air dari atas. Cuaca panas, kelembaban rendah, dan angin kencang juga menjadi faktor signifikan yang mempercepat penyebaran api ke area lain yang belum tersentuh. Petugas harus membawa peralatan secara manual melalui medan yang berat, seringkali harus menembus semak belukar dan rawa. Kondisi ini menuntut fisik dan mental yang kuat dari para personel yang bertugas tanpa henti di garis depan.
Tim gabungan yang terlibat dalam operasi pemadaman ini terdiri dari personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, hingga relawan masyarakat setempat. Mereka bekerja bahu-membahu menggunakan peralatan seperti pompa air berkekuatan tinggi, selang pemadam kebakaran, dan alat sekat bakar untuk melokalisir api agar tidak meluas. Beberapa unit water bombing dari helikopter juga telah dikerahkan untuk menjangkau area yang tidak memungkinkan diakses dari darat. Upaya masif ini merupakan manifestasi dari komitmen kolektif untuk melindungi Riau dari ancaman kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas publik dan kesehatan warga. Koordinasi yang erat antar unsur menjadi kunci utama efektivitas operasi penanggulangan bencana ini.
Penetapan status siaga darurat Karhutla oleh Pemerintah Provinsi Riau memiliki implikasi penting terhadap mobilisasi sumber daya dan percepatan pengambilan keputusan. Status ini memungkinkan pemerintah daerah untuk lebih leluasa mengalokasikan anggaran darurat, meminta bantuan personel dan peralatan dari pusat, serta mengaktifkan seluruh potensi daerah. Ini juga menjadi sinyal kuat bagi seluruh elemen masyarakat untuk lebih waspada dan berpartisipasi aktif dalam pencegahan Karhutla. Gubernur Riau menekankan bahwa penetapan status ini bukan berarti menyerah, melainkan untuk memperkuat barisan dan strategi dalam menghadapi ancaman kebakaran. Langkah ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menanggulangi bencana yang seringkali merugikan masyarakat luas.
Kebakaran lahan gambut di Riau bukan kali pertama terjadi, melainkan merupakan tantangan tahunan yang selalu membutuhkan perhatian serius dan penanganan komprehensif. Musim kemarau panjang beberapa tahun terakhir telah meningkatkan kerentanan wilayah ini terhadap Karhutla, meskipun berbagai upaya pencegahan telah digalakkan. Patroli darat dan udara secara rutin telah dilakukan untuk mendeteksi dini titik api, namun beberapa insiden masih saja terjadi, seringkali dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali. Pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya Karhutla dan pentingnya menjaga lingkungan terus menerus digiatkan. Pemerintah terus berupaya mencari solusi jangka panjang untuk memitigasi risiko Karhutla di masa mendatang.
Dampak Karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan ekologis dan kerugian materi, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius bagi penduduk akibat paparan asap. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di beberapa daerah berpotensi mengalami peningkatan drastis jika api tidak segera dipadamkan. Gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kesehatan lainnya seringkali menjadi konsekuensi langsung bagi warga yang terpapar asap. Sektor perekonomian juga dapat terganggu, mulai dari aktivitas transportasi hingga pariwisata, jika kabut asap melanda secara luas. Oleh karena itu, percepatan pemadaman api menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Riau.
Pada saat ini, seluruh personel gabungan tetap fokus pada upaya pendinginan dan memastikan tidak ada lagi titik api baru yang muncul atau api lama yang kembali membara di area yang sudah dipadamkan. Pemantauan melalui satelit dan patroli udara terus dilakukan untuk memantau pergerakan api dan mengidentifikasi hotpspot yang baru. Pemerintah provinsi dan lembaga terkait juga telah menyiapkan posko-posko kesehatan dan distribusi masker untuk antisipasi dampak asap yang mungkin terjadi. Diharapkan dengan koordinasi yang solid dan kerja keras tanpa henti, Karhutla di Dumai dan Kampar dapat segera terkendali sepenuhnya. Kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan akan menjadi faktor penentu utama keberhasilan operasi pemadaman ini.
Dengan penetapan status siaga darurat dan pengerahan seluruh sumber daya yang ada, Pemerintah Provinsi Riau bersama seluruh elemen terkait menunjukkan komitmen penuh dalam menghadapi ancaman Karhutla. Upaya pemadaman dan pencegahan terus berjalan simultan demi melindungi lingkungan dan memastikan kesehatan serta keamanan masyarakat. Harapan besar tersemat agar musim kemarau ini dapat dilalui tanpa dampak signifikan dari bencana asap, dan seluruh wilayah Riau dapat kembali hijau dan bebas dari ancaman Karhutla. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat adalah kunci utama untuk mencapai tujuan tersebut.
Referensi:
pekanbaru.tribunnews.com