Ancaman Defisit APBN: Ekonom UGM Soroti Dampak Pemangkasan Produksi Batu Bara
28 January 2026
14:13 WIB
sumber gambar : beritajatim.com
Wacana pemangkasan produksi batu bara kembali mencuat, memicu kekhawatiran di kalangan akademisi mengenai dampaknya terhadap penerimaan negara. Seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini menyoroti potensi ancaman signifikan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) apabila kebijakan ini benar-benar diimplementasikan. Pemerintah dihadapkan pada dilema besar untuk menjaga stabilitas sektor energi sekaligus memastikan arus penerimaan negara tetap optimal. Keputusan strategis ini menuntut pertimbangan matang agar tidak mengganggu keseimbangan fiskal dan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Peninjauan ulang kebijakan produksi batu bara harus dilakukan dengan cermat dan berbasis data valid.
Ekonom UGM tersebut secara tegas menyatakan bahwa batu bara masih merupakan salah satu tulang punggung penerimaan negara dari sektor komoditas. Pemangkasan produksi berpotensi menurunkan pendapatan negara secara substansial dari royalti, Pajak Penghasilan (PPh) perusahaan, serta Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) lainnya yang terkait erat dengan aktivitas pertambangan. Kontribusi besar sektor ini terhadap APBN menjadikan setiap perubahan kebijakan produksi memiliki efek domino yang luas terhadap kapasitas fiskal pemerintah. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi dan diversifikasi sumber pendapatan harus menjadi prioritas utama dalam perumusan kebijakan ini demi menjaga kesinambungan fiskal negara.
Di sisi lain, pemerintah memiliki alasan kuat dalam mempertimbangkan pemangkasan produksi batu bara, terutama dalam rangka menjaga stabilitas pasar dan pasokan energi nasional. Kebijakan ini dapat menjadi instrumen untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan, mencegah kelebihan pasokan yang bisa menekan harga, serta memastikan ketersediaan batu bara untuk kebutuhan domestik (DMO). Upaya ini juga selaras dengan komitmen global untuk transisi energi, meskipun secara bertahap, guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan visi jangka panjang menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan yang tepat, demi mencapai target pembangunan berkelanjutan.
Dampak dari pemangkasan produksi batu bara tidak hanya terbatas pada penerimaan negara, melainkan juga berpotensi merembet ke sektor ekonomi riil. Penurunan aktivitas pertambangan dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di daerah-daerah penghasil batu bara, serta melemahkan ekonomi lokal yang sangat bergantung pada industri ini. Industri pendukung seperti logistik, transportasi, dan jasa pelabuhan juga akan merasakan efek negatifnya secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, diperlukan kajian mendalam mengenai dampak sosial-ekonomi agar pemerintah dapat menyiapkan jaring pengaman sosial dan program alih profesi yang efektif bagi masyarakat terdampak.
Situasi ini menyoroti tantangan kompleks yang dihadapi pemerintah dalam menavigasi antara kebutuhan fiskal mendesak, target transisi energi, dan keberlanjutan ekonomi. Diperlukan kerangka kebijakan yang holistik dan terintegrasi untuk mengatasi dilema ini, bukan sekadar solusi parsial yang bersifat sementara. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk insentif untuk hilirisasi batu bara guna meningkatkan nilai tambah, serta investasi masif pada energi terbarukan sebagai alternatif sumber pendapatan dan energi. Kebijakan yang tidak terencana dengan baik justru dapat menciptakan ketidakpastian investasi dan mengganggu stabilitas makroekonomi secara signifikan.
Kesimpulannya, wacana pemangkasan produksi batu bara merupakan isu krusial yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Peringatan dari ekonom UGM ini menggarisbawahi perlunya kehati-hatian dalam merumuskan kebijakan yang berdampak multi-sektoral. Pemerintah diharapkan mampu merancang strategi jangka panjang yang berkelanjutan, menyeimbangkan kebutuhan penerimaan negara dengan upaya menjaga lingkungan dan ketahanan energi. Dialog yang konstruktif dan pengambilan keputusan berbasis data akurat akan sangat vital untuk menjamin masa depan ekonomi dan energi Indonesia yang lebih stabil dan sejahtera, serta transisi yang adil bagi semua pihak terkait.