News
Ancaman Senyap Tambang Emas Skala Kecil: Pemicu Utama Emisi Merkuri di Indonesia
sumber gambar : mediaindonesia.gumlet.io
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini mengumumkan temuan krusial yang menyoroti sektor pertambangan emas skala kecil (PESK) dan tradisional sebagai sumber antropogenik terbesar emisi merkuri di Indonesia. Penemuan ini memperjelas ancaman serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat yang selama ini mungkin kurang terkuantifikasi secara komprehensif. Data dari BRIN menegaskan urgensi bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah mitigasi yang efektif. Emisi merkuri dari aktivitas ini tidak hanya mencemari air dan tanah, tetapi juga udara, menciptakan dampak sistemik yang luas. Pengungkapan ini merupakan loncatan penting dalam memahami skala permasalahan dan merumuskan kebijakan yang tepat guna mengatasi krisis lingkungan yang laten.
Praktik penambangan emas skala kecil di Indonesia kerap kali menggunakan merkuri sebagai agen amalgamasi untuk memisahkan butiran emas dari bijihnya. Metode yang umumnya masih sangat tradisional dan minim pengawasan ini menyebabkan pelepasan merkuri dalam jumlah besar ke lingkungan. Para penambang seringkali membakar campuran amalgam emas-merkuri di ruang terbuka, melepaskan uap merkuri beracun langsung ke atmosfer yang kemudian mengendap di area sekitar. Selain itu, sisa buangan (tailing) yang mengandung merkuri dibuang begitu saja ke sungai atau tanah tanpa melalui proses pengolahan, memperparah kontaminasi di ekosistem perairan. Kurangnya edukasi mengenai bahaya merkuri dan desakan ekonomi menjadi faktor pendorong utama keberlanjutan praktik berbahaya ini di berbagai daerah.
Dampak lingkungan akibat emisi merkuri ini sangat merusak dan bersifat jangka panjang. Merkuri yang terlepas ke lingkungan dapat mencemari tanah, air permukaan, dan air tanah, memasuki rantai makanan melalui mikroorganisme yang mengubahnya menjadi metilmerkuri, bentuk paling beracun. Metilmerkuri kemudian terakumulasi dalam biota air, terutama ikan, dan mengalami biomagnifikasi seiring dengan posisi trofiknya dalam ekosistem. Fenomena ini berarti bahwa predator puncak seperti manusia yang mengonsumsi ikan terkontaminasi akan terpapar merkuri dalam kadar yang jauh lebih tinggi. Degradasi ekosistem sungai dan hutan bakau, serta hilangnya keanekaragaman hayati, menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari polusi yang masif ini.
Ancaman terhadap kesehatan manusia adalah aspek yang paling mengkhawatirkan dari paparan merkuri. Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi PESK, terutama mereka yang bergantung pada sumber daya air setempat atau mengonsumsi ikan hasil tangkapan lokal, sangat rentan terhadap keracunan merkuri. Paparan metilmerkuri dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat, ginjal, dan hati, serta berbagai masalah perkembangan pada anak-anak dan janin. Gejala keracunan merkuri meliputi gangguan motorik, masalah memori, tremor, dan dalam kasus parah dapat menyebabkan kebutaan atau kematian. Ibu hamil dan anak-anak balita adalah kelompok yang paling rentan, di mana paparan merkuri dapat mengakibatkan cacat lahir, keterlambatan perkembangan kognitif, dan masalah neurologis permanen.
Indonesia, sebagai negara pihak pada Konvensi Minamata tentang Merkuri, memiliki komitmen internasional untuk mengurangi dan, jika memungkinkan, menghilangkan penggunaan merkuri. Temuan BRIN ini menjadi dasar kuat untuk mempercepat implementasi strategi nasional dalam mencapai target tersebut. Tantangan utama terletak pada karakter PESK yang tersebar luas, seringkali informal, dan melibatkan komunitas yang secara ekonomi rentan. Diperlukan pendekatan multi-sektoral yang tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada penyediaan alternatif mata pencarian yang berkelanjutan dan transfer teknologi penambangan tanpa merkuri. Koordinasi antar lembaga pemerintah, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menjadi kunci keberhasilan upaya ini.
Berbagai solusi alternatif untuk praktik penambangan emas tanpa merkuri sebenarnya telah tersedia dan perlu diintensifkan penerapannya. Teknologi seperti retort untuk mendaur ulang uap merkuri, konsentrator gravitasi, atau sianidasi tertutup dapat menjadi pilihan yang lebih aman dan ramah lingkungan. Namun, adopsi teknologi ini memerlukan investasi, pelatihan, dan dukungan teknis bagi para penambang tradisional. Program edukasi yang masif dan berkelanjutan mengenai bahaya merkuri serta manfaat praktik penambangan yang lebih bersih harus digalakkan di tingkat komunitas. Selain itu, pemerintah perlu memfasilitasi akses terhadap pembiayaan dan pasar bagi penambang yang beralih ke metode ramah lingkungan, memastikan transisi yang adil dan berkelanjutan bagi mereka.
Pengungkapan BRIN mengenai PESK sebagai penyumbang emisi merkuri terbesar di Indonesia merupakan panggilan bangun yang mendesak bagi semua pihak. Ini bukan hanya masalah lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan publik, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekonomi. Dengan komitmen kuat, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan penuh terhadap penelitian dan inovasi, Indonesia dapat secara signifikan mengurangi jejak merkuri dari sektor pertambangan emasnya. Masa depan yang lebih bersih dan sehat bagi generasi mendatang sangat bergantung pada langkah-langkah konkret dan tegas yang diambil mulai saat ini. Upaya menuju penambangan emas yang bertanggung jawab dan bebas merkuri adalah investasi tak ternilai bagi kelestarian alam dan kesejahteraan bangsa.
Referensi:
mediaindonesia.com