News

Indonesia Merana: Kerugian Hampir Rp1000 Triliun Akibat Tambang Emas Ilegal Dua Tahun Terakhir

3 February 2026
09:55 WIB
Indonesia Merana: Kerugian Hampir Rp1000 Triliun Akibat Tambang Emas Ilegal Dua Tahun Terakhir
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Sektor pertambangan ilegal kembali menjadi sorotan tajam setelah terungkapnya fakta mengejutkan mengenai kerugian finansial yang diderita negara. Dalam kurun waktu hanya dua tahun, Indonesia diperkirakan telah kehilangan hampir Rp1.000 triliun akibat aktivitas penambangan emas ilegal yang masif dan tidak terkendali. Angka fantastis ini menggarisbawahi urgensi penanganan serius terhadap praktik ilegal yang tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mengancam keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Kehilangan pendapatan sebesar ini berpotensi menghambat berbagai program pembangunan nasional yang sangat vital, termasuk infrastruktur dan pelayanan publik. Situasi ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari seluruh elemen pemerintahan.

Kerugian triliunan rupiah ini bukan hanya sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari dampak sistemik yang meluas dan mendalam. Penambangan emas ilegal seringkali dilakukan tanpa standar lingkungan yang memadai, menyebabkan kerusakan ekosistem yang parah, pencemaran air oleh merkuri dan sianida, serta deforestasi lahan hutan secara masif. Selain itu, praktik ini menciptakan kantong-kantong konflik sosial di antara masyarakat adat dan pendatang, serta berpotensi menjadi sarang kejahatan terorganisir yang kompleks. Pendapatan negara dari royalti dan pajak juga lenyap, padahal seharusnya dana tersebut dapat dialokasikan untuk kepentingan publik yang lebih luas dan merata.

Penanganan tambang emas ilegal menghadapi tantangan yang sangat kompleks, mulai dari luasnya wilayah pertambangan yang sulit dijangkau hingga jaringan mafia yang terorganisir rapi dan beroperasi lintas batas. Keterbatasan sumber daya dan personel penegak hukum seringkali menjadi kendala utama dalam memberantas praktik ini secara efektif dan menyeluruh di lapangan. Beberapa laporan juga mengindikasikan adanya keterlibatan oknum-oknum tertentu yang turut melancarkan operasi ilegal ini, memperparah situasi dan menyulitkan upaya pemberantasan. Diperlukan koordinasi lintas sektoral yang lebih kuat dan integritas tinggi dari seluruh elemen negara untuk membongkar sindikat-sindikat tersebut.

Jumlah kerugian sebesar Rp1.000 triliun dalam dua tahun ini setara dengan hampir setengah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahunan Indonesia pada beberapa periode. Dengan dana sebesar itu, pemerintah seharusnya dapat membangun ribuan kilometer jalan, puluhan ribu sekolah atau rumah sakit, atau mengentaskan kemiskinan jutaan penduduk secara signifikan. Kerugian ini adalah sebuah opportunity cost yang sangat besar bagi pembangunan ekonomi bangsa dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di seluruh pelosok negeri. Potensi penerimaan negara yang hilang ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah, melalui kementerian terkait dan lembaga penegak hukum, didesak untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dan radikal dalam menanggulangi krisis ini dengan pendekatan yang multi-dimensi. Reformasi regulasi pertambangan, peningkatan pengawasan berbasis teknologi satelit dan drone, serta penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu menjadi sangat krusial dan mendesak. Pemberdayaan masyarakat lokal untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan melaporkan aktivitas ilegal juga dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengidentifikasi pelaku. Kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil dan pakar lingkungan, perlu diperkuat untuk menciptakan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan jangka panjang.

Masa depan sumber daya alam Indonesia berada di ujung tanduk jika praktik penambangan ilegal ini terus berlanjut tanpa kendali dan pengawasan ketat. Selain kerugian finansial yang terus membengkak, kerusakan lingkungan yang diakibatkannya akan membebani generasi mendatang dengan biaya restorasi yang mahal dan kehilangan keanekaragaman hayati yang tak tergantikan. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan dan penindakan harus melibatkan pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada aspek hukum dan ekonomi, tetapi juga aspek sosial budaya. Peningkatan kesadaran publik mengenai dampak negatif tambang ilegal juga menjadi kunci penting dalam upaya perlindungan aset negara ini dari kehancuran.

Kerugian fantastis hingga hampir Rp1.000 triliun akibat tambang emas ilegal dalam dua tahun terakhir adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia yang menuntut perhatian serius. Ini menuntut komitmen serius dan tindakan kolektif dari pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat, serta pelaku usaha yang sah untuk bersama-sama memerangi kejahatan ini. Hanya dengan sinergi yang kuat, kebijakan yang visioner, dan penegakan hukum yang adil, kekayaan alam Indonesia dapat dikelola secara bertanggung jawab demi kemakmuran bangsa dan perlindungan lingkungan yang lestari. Kegagalan menanggulangi masalah ini akan terus menggerogoti potensi ekonomi dan lingkungan negeri ini tanpa henti.

Referensi: wartakota.tribunnews.com