News

Walhi Soroti Dampak Tambang di Gunung Slamet Pasca Banjir, Ingatkan Potensi Bencana Mirip Sumatera

28 January 2026
14:41 WIB
Walhi Soroti Dampak Tambang di Gunung Slamet Pasca Banjir, Ingatkan Potensi Bencana Mirip Sumatera
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah menyuarakan keprihatinan mendalam terkait aktivitas penambangan di lereng Gunung Slamet, menyusul serangkaian insiden banjir bandang yang terjadi. Organisasi lingkungan tersebut secara tegas memperingatkan potensi bencana hidrometeorologi yang jauh lebih parah jika eksploitasi alam terus berlanjut tanpa kendali. Walhi menyoroti bahwa kondisi ekologis Gunung Slamet kini berada di ambang batas kritis, sangat rentan terhadap perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Peringatan ini disampaikan dengan merujuk pada peristiwa serupa di Sumatera, yang menunjukkan dampak dahsyat dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan yang tidak berkelanjutan. Aktivitas penambangan ilegal maupun yang memiliki izin namun abai terhadap mitigasi lingkungan disebut menjadi pemicu utama.

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Tengah mengungkapkan data mengejutkan terkait luasan area pertambangan, baik yang berizin maupun ilegal, yang tersebar di wilayah konservasi dan resapan air Gunung Slamet. Berdasarkan pemantauan internal, diperkirakan lebih dari ribuan hektar lahan di sekitar lereng telah beralih fungsi atau rusak akibat aktivitas penambangan pasir, batu, dan material lainnya. Data ini menunjukkan indikasi kuat adanya ketidaksesuaian antara perizinan yang dikeluarkan dengan kondisi lapangan serta daya dukung lingkungan Gunung Slamet yang sangat terbatas. Fenomena ini diperparah dengan lemahnya pengawasan dari pihak berwenang, sehingga praktik penambangan seringkali melanggar ketentuan batas aman dan menimbulkan dampak lingkungan yang masif. Kondisi ini secara langsung mempercepat laju erosi tanah dan hilangnya tutupan vegetasi alami yang vital sebagai penahan air.

Kerusakan ekosistem di lereng Gunung Slamet, termasuk hilangnya vegetasi dan perubahan kontur lahan akibat aktivitas penambangan, diyakini menjadi faktor utama pemicu banjir bandang. Insiden terbaru di beberapa titik, termasuk di sekitar kawasan wisata Guci Tegal, menjadi bukti nyata rapuhnya sistem hidrologi pegunungan tersebut. Tanah yang gembur dan tidak memiliki penahan alami sangat mudah tergerus oleh aliran air hujan intensitas tinggi, membawa serta material lumpur dan bebatuan ke area permukiman warga di bawahnya. Kondisi ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat, tetapi juga merusak infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan. Jelas terlihat bahwa keseimbangan alam telah terganggu serius, membutuhkan respons cepat dan terpadu.

Peringatan Walhi untuk tidak mengulangi kesalahan serupa yang terjadi di Sumatera menjadi poin krusial yang harus diperhatikan serius oleh semua pihak. Walaupun tidak dijelaskan secara spesifik peristiwa di Sumatera, perbandingan tersebut mengisyaratkan potensi kerusakan lingkungan skala besar yang mengakibatkan kerugian sosial dan ekonomi yang tak terhitung. Di Sumatera, beberapa wilayah pernah menghadapi bencana banjir dan longsor parah yang dihubungkan dengan deforestasi dan aktivitas tambang ilegal. Oleh karena itu, pengalaman pahit di wilayah lain tersebut semestinya menjadi cermin bagi pemerintah daerah dan masyarakat di sekitar Gunung Slamet untuk mencegah terulangnya tragedi yang serupa. Ancaman bencana yang lebih besar dari yang sudah terjadi saat ini sangat nyata di depan mata.

Untuk mengantisipasi ancaman bencana yang lebih besar, Walhi Jawa Tengah mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dan tegas. Mereka merekomendasikan moratorium terhadap seluruh aktivitas penambangan di lereng Gunung Slamet, baik yang berizin maupun ilegal, demi evaluasi menyeluruh. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku penambangan ilegal dan perusahaan yang melanggar standar lingkungan harus diperketat tanpa pandang bulu. Walhi juga menyerukan pentingnya program rehabilitasi lahan yang komprehensif serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar Gunung Slamet. Upaya restorasi ekosistem harus menjadi prioritas utama demi keberlanjutan hidup dan mitigasi bencana di masa depan.

Mendesaknya situasi ini menuntut kolaborasi serius antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, organisasi lingkungan, dan masyarakat luas. Tanpa tindakan pencegahan yang efektif dan restorasi ekologis yang berkelanjutan, Gunung Slamet dan wilayah sekitarnya akan terus menghadapi ancaman bencana yang kian meningkat. Keputusan hari ini akan sangat menentukan masa depan generasi mendatang, apakah mereka akan mewarisi lingkungan yang lestari atau justru rentan terhadap bencana. Peringatan dini dari Walhi ini harus menjadi momentum penting untuk mereorientasi kebijakan pembangunan agar lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga. Keseriusan dalam menanggulangi persoalan tambang ini adalah kunci utama untuk melindungi Gunung Slamet dari kehancuran lebih lanjut.

Referensi: jateng.tribunnews.com