News

Aceh Desak Pendekatan Holistik Penanganan Bencana: Pemulihan Martabat dan Ekologi Jadi Prioritas

23 February 2026
08:34 WIB
Aceh Desak Pendekatan Holistik Penanganan Bencana: Pemulihan Martabat dan Ekologi Jadi Prioritas
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Aceh, sebuah wilayah yang kerap dilanda berbagai bencana alam, kini mendesak pemerintah untuk mengadopsi pendekatan yang lebih komprehensif dalam penanganan pasca-bencana, melampaui narasi sederhana tentang "cuaca ekstrem" atau "fenomena atmosfer" semata. Desakan ini muncul seiring dengan kesadaran bahwa pemulihan sejati tidak hanya melibatkan rehabilitasi fisik, tetapi juga restorasi martabat masyarakat serta kesehatan ekosistem yang berkelanjutan. Insiden seperti Siklon Tropis Senyar di masa lalu, meskipun merupakan peristiwa alam, seringkali menjadi cerminan dari kerentanan yang diperparah oleh faktor-faktor manusia. Oleh karena itu, para pegiat lingkungan dan sosial menyerukan adanya tanggung jawab yang lebih mendalam dari berbagai pihak terkait. Penekanan pada martabat dan ekologi ini menandai pergeseran fokus dari sekadar mitigasi darurat menuju pembangunan ketahanan jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat di Aceh.

Kecenderungan pemerintah untuk merespons bencana dengan penjelasan terbatas pada "cuaca ekstrem" seringkali mengaburkan akar masalah yang lebih dalam. Narasi ini berisiko mengabaikan peran signifikan dari degradasi lingkungan, seperti deforestasi di daerah hulu atau perusakan ekosistem pesisir, yang justru memperparah dampak badai dan banjir. Akibatnya, komunitas rentan, terutama yang bergantung pada sumber daya alam, terus-menerus terperangkap dalam siklus kehancuran dan pemulihan yang tidak memadai. Pemahaman yang dangkal terhadap bencana juga dapat menghambat pengembangan kebijakan yang adaptif dan proaktif. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus tanpa adanya analisis penyebab yang holistik dan jujur.

Pemulihan martabat masyarakat pasca-bencana merupakan elemen krusial yang sering terpinggirkan dalam agenda rehabilitasi. Konsep martabat ini mencakup lebih dari sekadar penyediaan tempat tinggal sementara atau bantuan pangan; ia meliputi hak atas kehidupan yang layak, akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, serta kepastian mata pencarian yang berkelanjutan. Banyak korban bencana kehilangan identitas dan rasa memiliki mereka ketika komunitas dihancurkan dan tradisi lokal terabaikan. Oleh karena itu, upaya pemulihan harus berpusat pada pemberdayaan komunitas, melibatkan mereka secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan program, serta memastikan suara mereka didengar dan dihormati. Mengembalikan kemandirian dan harga diri menjadi prioritas utama untuk membangun kembali kehidupan yang lebih kuat dan bermakna.

Di sisi lain, pemulihan ekologi menjadi landasan tak terpisahkan dari ketahanan jangka panjang Aceh terhadap bencana di masa depan. Kerusakan hutan bakau, terumbu karang, dan daerah tangkapan air tidak hanya mengurangi keanekaragaman hayati, tetapi juga menghilangkan perlindungan alami terhadap gelombang pasang, erosi, dan banjir. Untuk itu, program restorasi ekosistem harus digalakkan secara masif, melibatkan penanaman kembali hutan, konservasi daerah aliran sungai, dan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan. Investasi dalam kesehatan lingkungan adalah investasi untuk keselamatan dan kesejahteraan generasi mendatang. Dengan menjaga ekosistem tetap sehat, Aceh dapat membangun benteng alami yang lebih kuat menghadapi tantangan iklim global yang kian tidak menentu.

Para ahli dan aktivis lingkungan mendesak pemerintah untuk meninggalkan pendekatan reaktif dan mulai menerapkan strategi mitigasi dan adaptasi yang proaktif. Hal ini berarti pemerintah harus mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap kebijakan dan program, terutama di sektor perencanaan tata ruang dan infrastruktur. Tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah daerah yang memiliki pemahaman langsung tentang kondisi lokal. Mengakui bahwa bencana adalah hasil interaksi kompleks antara ancaman alam dan kerentanan sosial-ekologis akan menjadi langkah pertama menuju solusi yang lebih efektif. Tanpa pergeseran paradigma ini, Aceh akan terus menghadapi risiko berulang yang mengancam stabilitas dan kemajuan.

Untuk mencapai pemulihan yang komprehensif, kolaborasi lintas sektor menjadi sangat vital. Keterlibatan aktif dari masyarakat lokal, organisasi non-pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus didorong dalam setiap tahapan penanganan bencana. Pengetahuan tradisional dan kearifan lokal yang dimiliki oleh komunitas seringkali menawarkan solusi inovatif yang sesuai dengan konteks geografis dan budaya Aceh. Dengan membangun kemitraan yang kuat, sumber daya dapat dialokasikan secara lebih efisien, program-program menjadi lebih relevan, dan keberlanjutan hasil dapat lebih terjamin. Sinergi antara berbagai pihak ini akan mempercepat proses pemulihan dan membangun fondasi ketahanan yang kokoh bagi masa depan Aceh.

Visi jangka panjang untuk Aceh adalah menjadi wilayah yang tidak hanya pulih dari bencana, tetapi juga tumbuh menjadi lebih tangguh dan berkeadilan sosial. Ini membutuhkan komitmen politik yang kuat serta alokasi anggaran yang memadai untuk program-program jangka panjang yang berfokus pada pembangunan manusia dan pelestarian lingkungan. Pendidikan kebencanaan dan peningkatan kapasitas masyarakat harus menjadi bagian integral dari strategi ini, mempersiapkan setiap individu untuk merespons dan beradaptasi. Dengan demikian, Aceh dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun ketahanan holistik yang mengedepankan keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan. Sebuah Aceh yang kuat adalah Aceh yang menghargai martabat rakyatnya dan melindungi warisan alamnya.

Secara keseluruhan, seruan untuk tanggung jawab komprehensif dalam pemulihan martabat dan ekologi Aceh adalah refleksi dari kebutuhan mendesak akan perubahan paradigma. Mengabaikan dimensi sosial dan ekologi dalam penanganan bencana hanya akan memperpanjang penderitaan dan memperparah kerentanan. Melalui pendekatan yang mengakui kompleksitas interaksi antara manusia dan alam, serta menempatkan manusia sebagai subjek utama pemulihan, Aceh memiliki potensi untuk membangun masa depan yang lebih aman dan sejahtera. Ini adalah panggilan untuk bertindak, bukan hanya merespons, melainkan juga merencanakan dan mengelola risiko secara holistik demi kesejahteraan abadi.

Referensi: aceh.tribunnews.com