News

Drone Rusia Renggut 12 Nyawa Pekerja Tambang di Dnipropetrovsk, Ukraina

3 February 2026
09:58 WIB
Drone Rusia Renggut 12 Nyawa Pekerja Tambang di Dnipropetrovsk, Ukraina
sumber gambar : akcdn.detik.net.id
Sebuah serangan drone Rusia pada Minggu (1/2) telah menewaskan sedikitnya 12 pekerja tambang sipil di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina. Insiden tragis ini terjadi ketika sebuah bus yang mengangkut para pekerja dihantam oleh drone mematikan, menyisakan puing dan duka mendalam bagi komunitas setempat. Serangan mematikan tersebut menambah panjang daftar korban sipil dalam konflik yang terus bergejolak di Ukraina timur. Otoritas Ukraina segera melancarkan penyelidikan atas insiden yang mengejutkan ini. Kejadian tersebut menggarisbawahi bahaya yang terus-menerus mengancam warga sipil di zona konflik.

Bus nahas itu dilaporkan mengangkut karyawan DTEK, perusahaan energi terbesar di Ukraina, di distrik Pavlograd, tepatnya di sekitar kota Ternivka. Serangan terjadi saat para pekerja tersebut dalam perjalanan menuju atau pulang dari shift kerja mereka di tambang lokal. Kendaraan pengangkut karyawan yang menjadi sasaran empuk drone Rusia ini sontak menjadi medan kehancuran dan kepanikan. Kepolisian setempat dan layanan darurat negara Ukraina segera tiba di lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan pertama. Puing-puing bus yang hangus dan kerusakan parah di sekitarnya menjadi saksi bisu kebrutalan serangan tersebut.

Tim penyelamat menghadapi pemandangan mengerikan saat tiba, berjuang untuk mengevakuasi korban dan mencari tanda-tanda kehidupan di antara reruntuhan. Operasi penyelamatan berlangsung intensif di tengah ketidakpastian, dengan kekhawatiran bahwa jumlah korban bisa saja bertambah. Banyak korban yang menderita luka parah akibat ledakan dan pecahan peluru drone. Pihak berwenang juga berupaya keras mengidentifikasi seluruh korban tewas dan luka, serta memberikan dukungan psikologis kepada keluarga yang berduka. Komunitas tambang di Ternivka kini diselimuti kesedihan yang mendalam atas kehilangan rekan-rekan mereka.

Pemerintah Ukraina, melalui juru bicaranya di Kyiv, dengan keras mengutuk serangan ini sebagai tindakan terorisme dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Mereka menyoroti bahwa target serangan adalah warga sipil yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari, bukan sasaran militer. Kyiv menyerukan kepada komunitas internasional untuk memberikan tekanan lebih besar kepada Kremlin agar menghentikan agresi terhadap warga sipil Ukraina. Serangan ini menunjukkan bahwa agresi Rusia terus menyasar infrastruktur sipil dan kehidupan masyarakat biasa di Ukraina.

Wilayah Dnipropetrovsk, meskipun tidak selalu berada di garis depan, seringkali menjadi sasaran serangan udara dan drone karena letaknya yang strategis dan berdekatan dengan wilayah konflik seperti Zaporizhzhia. Serangan-serangan semacam ini dirancang untuk menciptakan kepanikan, mengganggu kehidupan sehari-hari, dan merusak moral penduduk. Insiden drone ini merupakan bagian dari pola serangan yang lebih luas oleh pasukan Rusia, yang berulang kali menargetkan kota-kota dan infrastruktur kritis di seluruh Ukraina. Situasi ini terus memicu krisis kemanusiaan dan menekan kapasitas layanan darurat negara.

Moskow, melalui pernyataan-pernyataan sebelumnya terkait serangan serupa, seringkali membantah menargetkan warga sipil, namun mengakui operasi militer yang bertujuan merusak infrastruktur militer atau energi Ukraina. Namun, kejadian di Dnipropetrovsk ini secara jelas menunjukkan bahwa korban sipil tak terhindarkan dan seringkali menjadi sasaran langsung atau tidak langsung. Pola serangan ini terus berlanjut tanpa henti, meskipun ada seruan global untuk jeda serangan dan de-eskalasi konflik. Dunia internasional mengawasi dengan cermat setiap perkembangan di medan perang.

Insiden tragis ini kembali memicu perdebatan di kancah internasional mengenai upaya mengakhiri konflik. Para pemimpin dunia, termasuk dari Amerika Serikat, terus menyerukan perdamaian dan solusi diplomatik. Sejumlah pihak, termasuk beberapa politikus AS seperti Donald Trump, sebelumnya telah menyuarakan pandangan tentang perlunya negosiasi. Namun, serangan kejam seperti ini mempersulit upaya diplomatik dan memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina. Komunitas global harus bersatu untuk mendesak diakhirinya pertumpahan darah ini.

Korban jiwa yang terus berjatuhan, terutama dari kalangan sipil, merupakan pengingat pedih akan harga yang harus dibayar dalam konflik berkepanjangan ini. Serangan drone terhadap bus pekerja tambang ini bukan hanya sekadar angka, melainkan kehilangan nyawa manusia yang memiliki keluarga dan harapan. Dunia harus terus memberikan perhatian serius terhadap nasib rakyat Ukraina dan mencari jalan keluar yang damai dan adil. Menghentikan agresi dan melindungi warga sipil harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat dalam upaya perdamaian global.

Referensi: news.detik.com