News

ESDM Tegaskan Longsor Gunung Slamet Murni Faktor Alam, Bukan Akibat Aktivitas Tambang

3 February 2026
09:12 WIB
ESDM Tegaskan Longsor Gunung Slamet Murni Faktor Alam, Bukan Akibat Aktivitas Tambang
sumber gambar : statik.tempo.co
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi menyatakan bahwa peristiwa longsor yang terjadi di lereng Gunung Slamet baru-baru ini merupakan murni fenomena alamiah. Pernyataan ini sekaligus menepis dugaan awal dari masyarakat yang sempat mengaitkan bencana tersebut dengan aktivitas penambangan di area sekitarnya. ESDM melalui hasil investigasi tim geologinya menekankan bahwa lokasi pertambangan berada pada elevasi yang jauh lebih rendah, yakni di kaki gunung, dibandingkan dengan titik mahkota longsor yang menjadi pangkal kejadian. Klarifikasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang akurat dan berbasis ilmiah kepada publik mengenai penyebab sebenarnya dari insiden tersebut.

Insiden longsoran tanah yang terjadi beberapa waktu lalu, tepatnya pada akhir Januari 2026, sempat menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan masyarakat dan berbagai pihak. Lereng Gunung Slamet, yang dikenal memiliki topografi curam dan rentan, menjadi lokasi kejadian yang menarik perhatian publik. Banyak spekulasi bermunculan, termasuk dugaan adanya keterlibatan aktivitas penambangan ilegal atau legal yang berpotensi memicu ketidakstabilan lereng. Kondisi geologis daerah vulkanik memang seringkali menjadi perhatian khusus, apalagi jika terdapat aktivitas manusia yang dianggap berisiko tinggi.

Perwakilan ESDM menjelaskan secara rinci hasil analisis geologi timnya di lapangan yang dilakukan secara komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahkota longsor berada di ketinggian yang signifikan di bagian atas lereng, berbeda dengan lokasi konsesi tambang yang teridentifikasi jauh di bawahnya. "Lokasi penambangan berada pada elevasi yang lebih rendah dan secara geologis serta hidrologis tidak memiliki keterkaitan langsung dengan titik awal longsor," tegas perwakilan ESDM. Pernyataan ini didasarkan pada data topografi, peta geologi, dan observasi langsung di lapangan oleh para ahli yang berkompeten.

Sensitivitas isu lingkungan, terutama di kawasan pegunungan yang rentan bencana, seringkali membuat aktivitas penambangan menjadi kambing hitam ketika terjadi longsor. Namun, dalam konteks Gunung Slamet kali ini, ESDM menyerukan agar publik lebih mengedepankan analisis ilmiah dan data valid sebagai dasar penilaian. Penjelasan detail mengenai perbedaan elevasi antara area longsor dan lokasi tambang menjadi kunci untuk membedakan faktor alamiah dari potensi dampak aktivitas manusia. Pentingnya validasi data ini tidak hanya untuk akurasi informasi, tetapi juga untuk merumuskan strategi mitigasi bencana yang tepat sasaran di kemudian hari.

Berbagai faktor alamiah memang dapat berkontribusi pada fenomena longsor di daerah pegunungan berapi seperti Gunung Slamet. Curah hujan yang sangat tinggi dan intens dalam periode yang lama adalah pemicu utama yang dapat menjenuhkan tanah, mengurangi kohesi material, dan memicu pergerakan massa. Selain itu, kondisi geologi lokal yang khas gunung api, seperti lapisan batuan vulkanik yang lapuk dan material piroklastik yang belum terkonsolidasi sempurna, juga meningkatkan kerentanan lereng. Aktivitas tektonik minor atau getaran kecil yang sering terjadi di sekitar gunung berapi aktif juga bisa berperan sebagai pemicu sekunder yang mempercepat proses longsor.

Menindaklanjuti temuan ini, ESDM bersama instansi terkait kemungkinan akan memperkuat program pemantauan geologi di wilayah Gunung Slamet secara berkala dan berkelanjutan. Pemetaan zona rawan bencana yang lebih detail dan evaluasi ulang terhadap kerentanan lereng akan menjadi prioritas utama. Langkah-langkah ini penting untuk mengidentifikasi area berisiko tinggi dan merumuskan langkah mitigasi yang efektif untuk melindungi masyarakat. Edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda awal longsor dan jalur evakuasi juga harus terus digalakkan secara berkala agar kesiapsiagaan warga meningkat.

Insiden longsor di Gunung Slamet ini menjadi pengingat serius akan urgensi mitigasi bencana geologi di seluruh wilayah Indonesia yang memang sangat rentan. Terlepas dari penyebabnya yang alamiah, dampak longsor dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur, hilangnya lahan produktif, dan bahkan korban jiwa yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat harus bekerja sama dalam perencanaan tata ruang yang adaptif terhadap risiko bencana yang ada. Pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis lingkungan adalah kunci untuk mengurangi kerentanan di masa mendatang serta menjaga keseimbangan alam.

Dengan adanya klarifikasi resmi dari ESDM, diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang objektif dan tidak lagi terjebak dalam spekulasi yang tidak berdasar. Fokus utama kini harus beralih pada upaya peningkatan kesiapsiagaan dan adaptasi terhadap ancaman bencana alam yang memang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Meskipun penambangan tidak terbukti menjadi pemicu dalam kasus ini, pengawasan ketat terhadap semua aktivitas eksploitasi sumber daya alam tetap harus dipertahankan. Hal ini demi menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan warga di sekitar kawasan pegunungan yang sangat berharga.

Referensi: tekno.tempo.co