Gejolak Global Tekan Pasar Saham RI: Indeks Bisnis-27 Anjlok 3,87% Akibat Konflik AS-Iran
9 March 2026
13:47 WIB
sumber gambar : images.bisnis.com
Indeks Bisnis-27 mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa (4/3/2026), anjlok 3,87% ke level 279,15. Penurunan drastis ini tak terlepas dari gelombang sentimen negatif global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar modal domestik terpaksa menanggung dampak serius dari gejolak geopolitik internasional yang meruncing. Mayoritas saham konstituen indeks tersebut harus bergerak di zona merah sepanjang sesi perdagangan. Kondisi ini menggambarkan betapa rentannya pasar terhadap faktor eksternal yang berada di luar kendali para pelaku pasar lokal.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama investor global, menyusul serangkaian perkembangan terbaru dalam konflik antara AS dan Iran. Kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas regional dan pasokan energi global memicu aksi jual di berbagai bursa saham dunia, termasuk Indonesia. Para investor cenderung menarik dananya dari aset berisiko tinggi seperti saham untuk beralih ke aset yang lebih aman. Sentimen negatif ini dengan cepat menyebar dan menciptakan gelombang kepanikan di kalangan pelaku pasar. Spekulasi mengenai kemungkinan respons militer atau sanksi ekonomi tambahan turut memperkeruh suasana investasi.
Salah satu pemicu utama kekhawatiran adalah potensi ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak mentah dunia. Sekitar sepertiga dari seluruh minyak yang diperdagangkan secara global melewati selat strategis ini. Isu mengenai gangguan pada pasokan minyak dari kawasan tersebut sontak memicu gejolak hebat di pasar energi. Harga minyak mentah melonjak tajam sebagai respons terhadap kekhawatiran pasokan yang terhambat. Lonjakan harga komoditas ini secara langsung berdampak pada biaya produksi di berbagai sektor industri, yang pada gilirannya menekan profitabilitas perusahaan.
Dampak sentimen negatif ini terasa sangat kuat pada Indeks Bisnis-27, di mana 26 dari 27 saham konstituennya harus mengalami koreksi harga. Hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau atau setidaknya tidak terlalu terpuruk. Saham-saham unggulan dari berbagai sektor seperti pertambangan, energi, dan properti terpukul paling parah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada sektor yang kebal terhadap guncangan eksternal yang begitu masif. Indeks yang seharusnya mencerminkan kinerja perusahaan-perusahaan pilihan kini justru menjadi barometer ketidakpastian global.
Pelemahan Indeks Bisnis-27 ini juga sejalan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turut tertekan sentimen global serupa. Beberapa saham yang menjadi sorotan dan terkoreksi signifikan termasuk emiten pertambangan seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), serta konglomerat energi PT Barito Pacific Tbk. (BRPT). Meskipun secara teoritis beberapa emiten pertambangan atau energi dapat diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, kekhawatiran akan gangguan produksi atau pelambatan ekonomi global justru lebih mendominasi. Volume transaksi yang cukup tinggi menunjukkan kuatnya tekanan jual yang terjadi di pasar.
Tidak hanya sektor yang rentan terhadap harga komoditas, emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan sektor kesehatan seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) juga turut terseret arus pelemahan. Meskipun sering dianggap sebagai saham defensif, skala sentimen negatif global kali ini terlalu besar untuk dapat dihindari sepenuhnya. Investor cemas akan prospek pertumbuhan ekonomi yang melambat, yang berpotensi mengurangi daya beli konsumen dan belanja korporasi. Hal ini mengindikasikan bahwa koreksi pasar kali ini bersifat menyeluruh dan tidak pandang bulu terhadap sektor mana pun.
Melihat kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan terkini di arena global. Potensi eskalasi konflik di Timur Tengah akan terus menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan. Analis memperkirakan bahwa volatilitas akan tetap tinggi selama ketegangan AS-Iran belum menemukan titik redanya. Pemulihan pasar akan sangat bergantung pada meredanya sentimen negatif dan adanya katalis positif dari dalam maupun luar negeri.