News
Pakar Peringatkan: Banjir Jakarta dan Bangka Belitung Butuh Penanganan Berbeda
28 January 2026
11:43 WIB
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Fenomena banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta dan Bangka Belitung, seringkali disamakan dalam perbincangan publik. Namun, sebuah analisis mendalam dari akademisi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (UMBB), Randi Syafutra, menegaskan bahwa perbandingan tersebut dapat menyesatkan. Menurut Syafutra, menyamakan kedua kondisi banjir tersebut berarti mengabaikan akar persoalan yang fundamental dan karakteristik unik dari masing-masing wilayah. Pendekatan yang tidak mempertimbangkan kekhususan ini berisiko menghasilkan kebijakan mitigasi yang tidak efektif dan pemborosan sumber daya. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap pemicu lokal menjadi kunci dalam merumuskan solusi berkelanjutan.
Banjir di Jakarta, sebagai ibu kota negara, kerap diidentifikasi dengan masalah perkotaan yang kompleks. Tingginya tingkat urbanisasi, kepadatan penduduk yang ekstrem, serta pembangunan infrastruktur masif telah mengubah sebagian besar lahan resapan menjadi area kedap air. Selain itu, masalah sedimentasi sungai, penyempitan saluran air, dan penurunan muka tanah yang signifikan menjadi faktor pemicu utama banjir di Jakarta. Pengaruh pasang surut air laut di beberapa wilayah pesisir juga memperparah kondisi genangan air, menjadikannya masalah multisektoral yang membutuhkan koordinasi lintaslembaga yang kuat. Intervensi struktural dan non-struktural yang terintegrasi sangat diperlukan untuk mengatasi kompleksitas ini.
Sementara itu, kondisi banjir di Bangka Belitung memiliki karakteristik yang sangat berbeda, meskipun sama-sama disebabkan oleh curah hujan tinggi. Wilayah kepulauan ini seringkali menghadapi persoalan lingkungan yang berkaitan dengan perubahan tata guna lahan, terutama dampak dari aktivitas pertambangan. Pembukaan lahan untuk pertambangan timah, deforestasi, dan degradasi ekosistem alami telah mengurangi kapasitas tanah dalam menyerap air secara drastis. Akibatnya, air hujan melimpas lebih cepat dan menyebabkan genangan di area yang rentan, seringkali memengaruhi komunitas pedesaan dan infrastruktur lokal. Karakteristik geografis berupa dataran rendah pesisir juga menjadikannya rentan terhadap kenaikan muka air laut dan pasang rob.
Perbedaan fundamental ini menggarisbawahi urgensi untuk tidak menggunakan pendekatan "satu solusi untuk semua" dalam penanganan bencana. Mengabaikan akar persoalan yang spesifik di setiap wilayah dapat menyebabkan kegagalan dalam strategi mitigasi jangka panjang. Misalnya, solusi infrastruktur kanal yang mungkin cocok untuk Jakarta belum tentu efektif diterapkan di Bangka Belitung yang memiliki topografi dan permasalahan lingkungan berbeda. Kebijakan harus didasarkan pada data geospasial yang akurat, analisis hidrologi lokal, dan pemahaman mendalam tentang dinamika sosial serta ekonomi masyarakat setempat. Pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan menjadi esensial untuk keberhasilan program.
Randi Syafutra dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung menekankan pentingnya riset berbasis bukti dan kajian ilmiah dalam merumuskan kebijakan. Ia menyerukan agar pemerintah daerah dan pusat lebih fokus pada identifikasi penyebab spesifik banjir di masing-masing wilayah. Generalisasi dapat menghambat upaya adaptasi dan mitigasi yang seharusnya bersifat presisi. Syafutra mendorong kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat untuk mengembangkan solusi yang inovatif dan relevan dengan konteks lokal. Dengan demikian, setiap upaya penanggulangan banjir dapat memberikan dampak yang maksimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.
Kegagalan untuk mengakui dan bertindak berdasarkan perbedaan ini akan membawa konsekuensi serius. Sumber daya yang terbatas bisa dialokasikan secara tidak efisien, proyek-proyek mitigasi mungkin tidak mencapai target, dan masyarakat akan terus menerus menghadapi ancaman banjir yang berulang. Selain kerugian material, dampak psikologis dan sosial akibat bencana yang berkepanjangan juga tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, pendekatan yang nuansa dan adaptif tidak hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang keadilan dan keberlanjutan bagi seluruh warga. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim dan tantangan lingkungan lainnya.
Secara keseluruhan, pesan utama yang disampaikan oleh Randi Syafutra sangat jelas: penanganan banjir harus dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang kekhasan setiap wilayah. Jakarta dengan kompleksitas urbanisasinya dan Bangka Belitung dengan isu lingkungan spesifiknya membutuhkan strategi penanganan yang terpisah namun terkoordinasi. Dengan demikian, diharapkan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat bekerja sama merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis konteks, solusi banjir dapat diimplementasikan secara efektif, menuju terciptanya lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi semua.
Referensi:
bangka.tribunnews.com