News

Tasikmalaya Gelorakan Literasi Braille: Wakil Wali Kota Dukung Peringatan Hari Braille Sedunia

3 February 2026
09:47 WIB
Tasikmalaya Gelorakan Literasi Braille: Wakil Wali Kota Dukung Peringatan Hari Braille Sedunia
sumber gambar : mediaindonesia.gumlet.io
Kota Tasikmalaya menggelar peringatan Hari Braille Sedunia pada akhir Januari 2026, ditandai dengan sebuah acara inspiratif yang mempertemukan Wakil Wali Kota dengan 104 penyandang tunanetra. Kegiatan ini secara khusus dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai esensi literasi Braille sebagai jembatan penting menuju kemandirian. Diinisiasi oleh Paguyuban Disabilitas Tasikmalaya, acara baca dan tulis ini menjadi manifestasi nyata komitmen terhadap inklusi sosial. Partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan semangat kebersamaan dalam membangun lingkungan yang lebih ramah disabilitas. Momen ini sekaligus menjadi penegasan akan pentingnya hak akses informasi bagi semua warga negara.

Ratusan penyandang tunanetra yang hadir di acara tersebut larut dalam sesi-sesi interaktif yang memfokuskan pada keterampilan membaca dan menulis Braille. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan, tetapi juga berbagi pengalaman dan tantangan dalam mengakses informasi sehari-hari. Berbagai alat peraga dan bahan bacaan Braille disediakan untuk memastikan setiap peserta mendapatkan manfaat maksimal dari kegiatan ini. Suasana penuh semangat dan kebersamaan begitu terasa, menciptakan ruang aman bagi para tunanetra untuk mengeksplorasi potensi diri. Kegiatan ini sukses menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan inspiratif bagi seluruh peserta.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, yang turut hadir dan memberikan sambutan, menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap upaya pemberdayaan penyandang disabilitas. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan pentingnya Braille sebagai kunci untuk membuka dunia pengetahuan dan peluang bagi tunanetra. Pemerintah Kota Tasikmalaya berkomitmen untuk terus menyediakan fasilitas dan program yang mendukung kemandirian serta kesejahteraan mereka. Partisipasi Wakil Wali Kota ini menjadi simbol nyata kepedulian dan dorongan bagi seluruh masyarakat untuk lebih aktif dalam menciptakan kota yang inklusif. Kehadiran beliau juga diharapkan dapat memotivasi berbagai pihak untuk turut serta dalam gerakan literasi Braille.

Paguyuban Disabilitas Tasikmalaya, sebagai motor penggerak acara ini, berhasil menunjukkan dedikasi luar biasa dalam advokasi hak-hak penyandang disabilitas. Ketua paguyuban dalam kesempatan tersebut menyoroti tantangan yang masih dihadapi tunanetra dalam mengakses pendidikan dan pekerjaan. Mereka menekankan bahwa literasi Braille bukan hanya sekadar kemampuan teknis, melainkan hak dasar yang harus dipenuhi oleh negara dan masyarakat. Acara ini merupakan salah satu dari serangkaian inisiatif mereka untuk terus menyuarakan dan mewujudkan inklusi nyata. Upaya mereka menjadi inspirasi bagi organisasi disabilitas lainnya di seluruh Indonesia.

Literasi Braille memiliki peran fundamental dalam kehidupan penyandang tunanetra, jauh melampaui sekadar membaca dan menulis. Ini adalah pintu gerbang menuju pendidikan formal, akses terhadap informasi penting, dan peluang pekerjaan yang lebih luas. Kemampuan membaca Braille memungkinkan individu untuk mandiri, tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain dalam memahami dunia di sekitarnya. Tanpa Braille, banyak tunanetra akan kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah atau mengakses dokumen-dokumen penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kampanye kesadaran seperti ini sangat vital untuk memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama.

Peringatan Hari Braille Sedunia di Tasikmalaya ini juga berfungsi sebagai platform untuk memupuk kesadaran sosial yang lebih luas mengenai inklusivitas. Acara semacam ini membantu masyarakat umum memahami realitas dan kebutuhan penyandang tunanetra, mengurangi stigma, dan membangun empati. Dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga komunitas lokal, acara ini mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih menerima dan mendukung. Edukasi publik tentang Braille dapat membuka jalan bagi desain lingkungan yang lebih aksesibel dan layanan publik yang lebih responsif. Membangun Tasikmalaya yang inklusif berarti memastikan setiap warganya merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang setara.

Perayaan Hari Braille Sedunia secara global setiap tanggal 4 Januari sesungguhnya untuk memperingati kelahiran Louis Braille, sang penemu sistem baca-tulis revolusioner ini. Sistem Braille yang ditemukan pada abad ke-19 ini telah mengubah kehidupan jutaan tunanetra di seluruh dunia, memberi mereka kekuatan untuk membaca dan menulis secara independen. Acara di Tasikmalaya, meskipun diselenggarakan di akhir bulan Januari 2026, merefleksikan semangat universal dari peringatan tersebut. Ini menegaskan bahwa kebutuhan akan Braille tetap relevan dan krusial di era digital sekalipun, sebagai fondasi literasi bagi penyandang disabilitas visual. Momen ini mengingatkan kita akan warisan tak ternilai yang ditinggalkan oleh Louis Braille.

Keberhasilan peringatan Hari Braille Sedunia di Tasikmalaya ini menjadi momentum penting dalam upaya mewujudkan kota yang benar-benar inklusif. Acara ini tidak hanya memberikan edukasi dan pemberdayaan bagi 104 tunanetra yang hadir, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada seluruh masyarakat tentang pentingnya dukungan dan kesetaraan. Diharapkan, kegiatan serupa akan terus berlanjut dan diperluas jangkauannya, menciptakan gelombang perubahan positif yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi disabilitas, dan masyarakat umum adalah kunci untuk memastikan hak-hak dan potensi penyandang tunanetra dapat sepenuhnya terwujud. Tasikmalaya terus bergerak maju menuju masa depan yang lebih cerah dan setara bagi semua warganya.

Referensi: mediaindonesia.com