News

Warga Beutong Ateuh Aceh Bersatu Tolak Tambang Emas, Surati Presiden Demi Lindungi Lingkungan dan Budaya

23 July 2026
15:46 WIB
Warga Beutong Ateuh Aceh Bersatu Tolak Tambang Emas, Surati Presiden Demi Lindungi Lingkungan dan Budaya
www.antaranews.com
Masyarakat Beutong Ateuh, sebuah kecamatan yang kaya akan keanekaragaman hayati di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, secara resmi telah menyurati Presiden Republik Indonesia untuk menyatakan penolakan tegas terhadap rencana penambangan emas di wilayah mereka. Langkah kolektif ini diambil sebagai wujud keprihatinan mendalam atas potensi dampak lingkungan, sosial, dan budaya yang ditimbulkan oleh aktivitas eksploitasi mineral tersebut. Surat penolakan ini merupakan suara bulat dari warga setempat yang didukung oleh berbagai pihak, termasuk komunitas adat Pawang Uteun, Yayasan APEL Green Aceh, serta sejumlah organisasi masyarakat sipil lainnya. Mereka menyerukan perlindungan terhadap hutan adat, sumber air bersih, dan keberlanjutan mata pencarian tradisional yang menjadi tumpuan hidup ribuan jiwa. Aksi ini menegaskan komitmen kuat warga untuk menjaga kelestarian alam Beutong Ateuh dari ancaman industri pertambangan.

Kekhawatiran utama masyarakat Beutong Ateuh berpusat pada kerusakan ekologis yang tidak dapat dipulihkan jika penambangan emas diizinkan beroperasi. Wilayah Beutong Ateuh dikenal sebagai daerah hulu yang sangat vital bagi pasokan air bersih dan irigasi untuk puluhan desa di sekitarnya. Operasi penambangan emas, terutama yang melibatkan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida, berpotensi mencemari sungai dan tanah, membahayakan kesehatan masyarakat serta ekosistem lokal. Deforestasi besar-besaran yang biasanya menyertai aktivitas pertambangan juga akan mengancam habitat satwa liar endemik dan memperparah risiko bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor. Pelestarian hutan di Beutong Ateuh adalah kunci untuk menjaga keseimbangan ekologis di seluruh wilayah Nagan Raya dan sekitarnya.

Selain dampak lingkungan, masyarakat juga menyoroti ancaman terhadap tatanan sosial dan budaya yang telah terjaga selama turun-temurun. Sebagian besar warga Beutong Ateuh bergantung pada pertanian subsisten, perkebunan, dan hasil hutan non-kayu sebagai sumber penghidupan utama mereka. Kehadiran tambang emas dikhawatirkan akan merampas lahan-lahan produktif mereka, menyebabkan penggusuran, dan memicu konflik sosial antarwarga maupun dengan pihak perusahaan. Komunitas Pawang Uteun, sebagai penjaga hutan adat, memiliki kearifan lokal yang kuat dalam mengelola dan melestarikan sumber daya alam, yang terancam hilang akibat modernisasi tambang. Hilangnya hutan adat tidak hanya berarti kehilangan mata pencarian, tetapi juga hilangnya identitas budaya dan tradisi yang telah membentuk kehidupan masyarakat Beutong Ateuh.

Surat yang dikirimkan kepada Presiden Joko Widodo memuat detail lengkap mengenai alasan penolakan warga, dilengkapi dengan data-data dan analisis dampak lingkungan serta sosial. Dukungan dari Yayasan APEL Green Aceh dan berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya menunjukkan adanya jaringan advokasi yang kuat di balik pergerakan ini. Mereka tidak hanya membantu dalam penyusunan surat, tetapi juga aktif melakukan edukasi publik, pengumpulan data lapangan, dan pendampingan hukum bagi masyarakat. Organisasi-organisasi ini percaya bahwa Presiden memiliki wewenang penuh untuk mengevaluasi kembali kebijakan pemberian izin tambang dan memprioritaskan kepentingan masyarakat serta kelestarian lingkungan. Mereka berharap agar pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius dan segera mengambil tindakan konkret demi melindungi hak-hak masyarakat adat.

Kasus penolakan tambang di Beutong Ateuh bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia, mencerminkan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya keadilan lingkungan dan hak atas tanah. Pengalaman dari berbagai daerah lain menunjukkan bahwa konflik pertambangan seringkali berujung pada kerusakan lingkungan parah dan penderitaan masyarakat. Oleh karena itu, warga Beutong Ateuh belajar dari pengalaman tersebut dan memilih untuk proaktif dalam menyuarakan penolakan mereka sejak awal. Mereka mendambakan sebuah masa depan di mana pembangunan dilakukan secara berkelanjutan, menghormati lingkungan dan kearifan lokal, tanpa mengorbankan kesejahteraan generasi mendatang. Dengan bersatunya suara dan tekad, masyarakat Beutong Ateuh berharap Presiden dapat mendengar aspirasi mereka dan menghentikan rencana penambangan emas di wilayahnya.

Referensi: www.antaranews.com