News

Emas Antam Anjlok Drastis Rp 260 Ribu, Luruh di Bawah Rp 3 Juta per Gram

3 February 2026
09:52 WIB
Emas Antam Anjlok Drastis Rp 260 Ribu, Luruh di Bawah Rp 3 Juta per Gram
sumber gambar : kly.akamaized.net
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami koreksi tajam pada Jumat, 31 Januari 2026, mencatat penurunan signifikan sebesar Rp 260.000 per gram. Penurunan drastis ini mengakhiri dominasi harga emas yang sempat bertengger di atas level psikologis Rp 3 juta, kini kembali luruh di bawah ambang batas tersebut. Kejadian ini sontak mengejutkan pasar dan para investor emas, terutama mereka yang baru saja masuk saat harga mendekati puncaknya. Volatilitas pasar komoditas logam mulia kembali menunjukkan taringnya setelah periode kenaikan yang cukup stabil.

Pada perdagangan hari ini, harga emas Antam dilaporkan berada di level Rp 2.990.000 per gram, turun tajam dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh rekor tertinggi di kisaran Rp 3.250.000 per gram. Koreksi sebesar Rp 260.000 ini merupakan salah satu penurunan harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir, menandakan adanya aksi jual masif atau perubahan sentimen pasar yang fundamental. Para pelaku pasar kini memantau dengan seksama pergerakan harga ini, mencari tahu apakah ini hanya koreksi sementara atau awal dari tren penurunan yang lebih panjang. Penurunan ini tentu menjadi perhatian serius bagi para investor yang melihat emas sebagai aset lindung nilai.

Sebelum anjloknya harga ini, emas Antam telah menikmati periode bullish yang panjang, didorong oleh berbagai faktor global dan domestik. Kekhawatiran akan inflasi, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, serta ketidakpastian ekonomi global telah mendorong permintaan akan aset safe haven seperti emas. Emas berhasil menembus rekor harga tertinggi sepanjang sejarah, menarik banyak investor baru yang ingin mengamankan nilai aset mereka. Antusiasme investor begitu tinggi, mendorong harga ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya, menciptakan euforia di pasar logam mulia.

Koreksi tajam yang terjadi hari ini diperkirakan dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan oleh investor setelah melihat harga mencapai puncaknya. Selain itu, potensi menguatnya dolar Amerika Serikat pasca rilis data ekonomi yang positif di AS, serta meredanya beberapa ketegangan geopolitik, mungkin turut berkontribusi pada penurunan ini. Perubahan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia juga bisa mempengaruhi sentimen investor terhadap emas. Analis pasar juga menyoroti adanya tekanan teknikal setelah harga naik terlalu cepat dalam waktu singkat, memicu koreksi alami.

Bagi investor yang membeli emas pada harga puncak, penurunan ini tentu menimbulkan kerugian yang tidak sedikit secara nilai aset. Namun, bagi investor jangka panjang yang melihat emas sebagai lindung nilai dan bagian dari diversifikasi portofolio, koreksi ini bisa menjadi peluang untuk kembali mengakumulasi. Penting bagi investor untuk tidak panik dan mengevaluasi kembali strategi investasi mereka, mempertimbangkan tujuan keuangan jangka panjang. Penurunan harga ini juga dapat menjadi kesempatan bagi mereka yang belum sempat membeli emas di harga rendah untuk masuk ke pasar.

Para analis pasar menyarankan agar investor tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan. Mereka memprediksi bahwa pasar akan mencari titik keseimbangan baru setelah koreksi ini, dengan level dukungan (support) dan resistensi yang baru terbentuk. Fluktuasi harga emas adalah hal yang wajar dalam pasar komoditas, dan investor diharapkan untuk tetap mengikuti perkembangan ekonomi global serta kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi harga. Pengamatan cermat terhadap dinamika pasar akan menjadi kunci dalam menentukan langkah selanjutnya.

Penurunan harga emas Antam ini juga memiliki implikasi lebih luas terhadap kepercayaan pasar dan sentimen investasi di Indonesia. Meskipun emas sering dianggap sebagai aset yang stabil, volatilitas yang terjadi menunjukkan bahwa tidak ada investasi yang sepenuhnya kebal terhadap gejolak pasar. Ini mengingatkan investor akan pentingnya diversifikasi aset dan manajemen risiko yang prudent. Pasar emas akan terus menjadi barometer penting bagi sentimen risiko global dan kondisi ekonomi makro.

Secara keseluruhan, anjloknya harga emas Antam pada 31 Januari 2026 menjadi pengingat akan dinamika pasar komoditas yang selalu bergerak. Setelah mencapai rekor tertinggi, koreksi besar-besaran ini mengembalikan harga di bawah ambang batas Rp 3 juta, memicu pertanyaan tentang arah selanjutnya. Investor disarankan untuk tetap waspada, mengikuti perkembangan terkini, dan membuat keputusan investasi berdasarkan analisis yang mendalam. Kebijakan yang bijaksana dan perspektif jangka panjang akan membantu menghadapi ketidakpastian pasar ini.

Referensi: www.liputan6.com